MASIGNCLEAN101

10 Penderitaan Yang Cuma Dialami Oleh Kau Anak Pesantren

iklan banner
 Banyak sekali cara untuk menuntut ilmu agama dan itu memang wajib hukumnya 10 Penderitaan Yang Cuma Dialami Oleh Kamu Anak Pesantren

Banyak sekali cara untuk menuntut ilmu agama dan itu memang wajib hukumnya. Bagi Seorang muslim mempunyai banyak alternatif pilihan untuk memperdalam ilmu agama Islam. Dari mempelajari bersama Orang Tua, guru privat, sampai masuk pondok pesantren. Yang terakhir ini yang akan Kita bahas. Karena sangat menarik untuk disimak bersama.

Kita akui aneka macam Anak yang dimasukkan pada pondok pesantren oleh Orang Tua. Sebagian kecil alasannya yakni kemauan sendiri. Dimulai dari itu maka akan menemukan banyak hal gres termasuk penderitaan didalamnya. Dan penderitaan penderitaan ini hanya akan dialami oleh Kamu yang pernah masuk pondok pesantren.

1. Pisah dari Orang Tua

Pada awalnya ini yakni merupakan suatu bentuk penderitaan, apalagi sebelumnya termasuk anak manja. Berpisah dengan Orang renta yakni hal yang cukup berat. Beberapa hari akan mencicipi kerinduan dengan Orang tua. Kesulitan mengikuti keadaan ini akan dirasakan pada awalnya saja. Setelah usang akan terbiasa sendiri. Kecuali bila sudah semenjak usang terbiasa bebas dari Orang renta atau ketika di Rumah merasa ibarat di neraka alasannya yakni didikan Orang Tua yang sangat keras. Namun meski begitu tetap akan ada rasa rindu pada Orang tua.

2. Terkena penyakit kulit

Se Modern apapun Pondok pesantren yang dimiliki entah kenapa aneka macam yang harus mencicipi penderitaan alasannya yakni mempunyai penyakit kulit. Hal ini biasanya terjadi alasannya yakni aneka macam berinteraksi dengan Orang banyak yang mengakibatkan penyakit kulit menyebar. Mungkin alasannya yakni tidak semua santri mengerti betul cara menjaga kebersihan. Selain itu alasannya yakni kurangnya gerakan untuk menciptakan kondisi badan menjadi lebih sehat dan tahan terhadap penyakit kulit yang gampang menular. Dan tentu saja alasannya yakni alasan yang ada pada bab lain dari artikel ini.

3. Mulai mengurus hal sendiri tanpa derma ibarat biasanya

Jika dulu makan tinggal makan, tidak merasa repot harus masak lebih dulu. Tapi sesudah masuk pondok pesantren harus melakukannya sendiri. Mau makan harus masak sendiri bersama santri yang lain. Itupun tidak menjamin untuk problem rasa. Banyak sekali yang kesannya tidak memuaskan dan tidak ibarat kuliner Ibu di Rumah. Penderitaan ini memang harus dialami. Tapi yakin bila sudah terbiasa maka semua akan baik-baik saja. Semakin usang justru akan merasa bahwa Rumah yakni nirwana yang paling indah.

4. Harus terpaksa berdiri ketika masih sangat nyenyak tidur

Untuk setiap pondok pesantren mempunyai aturan yang berbeda-beda. Namun pada umumnya tetap mewajibkan untuk berdiri malam atau lebih pagi dari kebiasaan di Rumah. Pada awalnya ini sangat berat apalagi bila belum terbiasa. Bisa dibayangkan bagaimana malasnya harus berdiri ketika waktunya enak-enak tidur untuk sholat malam atau sholat subuh pada pagi hari. Namun hal itu akan menjadi kebiasaan dan akan sangat cepat bila sebelumnya sempat berlaku disiplin ketika di Rumah.

5. Pada beberapa keadaan harus hidup prihatin

Terutama ketika memulai masuk pondok pesantren pada usia dini, administrasi keuangan belum begitu bagus. Sehingga kadang lepas kontrol dan memakai lebih banyak dari yang seharusnya. Otomatis jatah dari orang renta habis sebelum waktunya. Saat itu terjadi tentu harus hidup prihatin. Untung saja masih banyak sobat yang baik hati dan suka berbagi.

6. Senioritas yang sangat kuat

Hampir di semua pondok pesantren mempunyai senior yang cukup keras. Dalam mengatur atau mendisiplinkan ingusan kadang ada yang suka bertindak kasar. Atau minimal tidak ada kekerasan tapi suka menyuruh adik tingkatnya. tidak jarang hal itu dilakukan untuk kepentingan pribadi.

7. Kewajiban untuk menghafal

Kegiatan menghafal ini sudah menjadi hal wajib. Terutama bagi yang malas akan sangat menyiksa. Apalagi dalam waktu cepat dituntut untuk menghafal surah panjang dan sangat banyak. Sebenarnya sanggup namun kadang tidak fokus dan lebih banyak melaksanakan kegiatan lain.

8. Menahan diri untuk pacaran

Pacaran konsekuensinya sangat berat, alasannya yakni sanggup mendapatkan eksekusi yang sangat menunjukkan efek jera. Sehingga mau tidak mau harus menahan diri untuk tidak pacaran. Jika memang tidak tahan hanya sanggup mencuri kesempatan dan itu terperinci ibarat tindakan kejahatan didalam lingkungan pondok pesantren.

9. Harus mendapatkan dampak ketika ada sobat yang jorok

Namanya berkumpul Orang banyak tentu saja ada beberapa aksara Orang dalam pondok pesantren tersebut. Salah satunya niscaya ada satu sobat yang sifatnya jorok. Untuk kemudahan umum tidak jarang mencicipi dampak dari sifat sobat yang satu ini.

10. Harus antri kamar mandi

Kalau di Rumah, antri paling cuma Orang sedikit. Sedangkan di pondok pesantren harus banyak Orang. Paling menderita yakni ketika ada program mendadak dan sobat lain proses mandinya cukup lama. Bisa jadi emosi sendiri alasannya yakni keadaan ini.
Share This :
AyuD